SELAMAT DATANG DI WEB BALAI PENDIDIKAN AL IKHLAS KALIKOTES

Kamis, 21 Desember 2017

Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak

Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa

Hidayatullah.com“Wah, kalau soal pendidikan anak jangan saya orangnya. Saya ini tak pernah mendidik anak-anak.” Begitu kata Ustadz Anwari Hambali (53) ketika media ini minta waktu untuk wawancara. Ustad Anwari, begitu biasa dipanggil, adalah seorang dai senior di Hidayatullah.
Pernyataan Anwari itu bisa dibaca sebagai ungkapan rendah hati. Nyatanya, ia dikaruniai 9 anak. Sebagai orangtua yang mempunyai anak sebanyak itu, mana mungkin tak pernah mendidik putra-putrinya. Hanya,  dai kelahiran Probalingga, Jawa Tengah ini  memang punya cara tersendiri yang mungkin berbeda dengan orangtua lainnya.
Dan cara itu, sejauh ini lumayan berhasil. “Cukup menyejukan hati,” begitu ujar anggota Dewan Syura Hidayatullah ini.
Anwari menikah pada l985 dengan Umi Latifah, teman sepengajian di Probalinggo. Dari 9 anah buah pernikahan mereka, kini tinggal 5. Empat anaknya sudah dipanggil pulang ke rahmatullah. Lima anak tersisa itu adalah Faiz Ghufron Muhammad (24), Nafis Mahfudz Muthohar (20), Iffah Nurfathi (17), Luthfia Nur Rokhani (16), dan Tsabit Amin Fuadi (14).


Dari lima anak Anwari yang tersisa, 4 di antaranya kini sedang menghafal al-Qur`an di beberapa pesantren di Jawa. Bahkan Nafis sudah khatam 30 Juz.      Sedangkan Faiz memilih  menjadi guru di sebuah pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Terhadap anak-anak

Bagaimana Anda mendidik anak-anak?
 Begini, saya punya hati, istri punya hati, anak-anak juga punya hati. Hati-hati itu dimiliki oleh Allah. Saya tidak bisa menyetir hati-hati mereka, saya hanya bisa berdoa. Dan  doa yang  saya baca tiap hari adalah doa kepasrahan seperti doanya Nabi Ibrahim. ”Ya Allah, jadikan kami suami dan istri yang selalu pasrah kepadaMu, jadikanlah anak keturunan kami orang-orang yang pasrah kepada Mu. Ya Allah, bimbinglah kami semua.” Itulah cara saya berkeluarga: mengutamakan kekuatan Allah di atas kekuatan saya sendiri. Alhamdulillah, hasilnya cukup menyejukkan.
Prinsip saya, kalau kita ngurus orang lain, maka Allah yang mengurus keluarga kita.

Anak-anak Anda punya kecenderungan kuat belajar agama. Apakah itu permintaan Anda? 
Kami tidak pernah memaksakan anak-anak belajar agama. Mereka yang punya kemauan sendiri. Kuncinya pada anak pertama. Dia punya niat cukup kuat untuk belajar agama di pesantren. Dia pernah belajar di sebuah pesantren di Bekasi dan Cirebon. Dia pula yang kemudian “memprovokasi” adik-adiknya untuk  mengikuti jejaknya. “Kalau kamu dekat terus sama orangtua, kamu tidak akan jadi-jadi,” begitunya doktrinya kepada adik-adiknya.

Mereka semua jauh dari Anda. Tidak khawatir?
Tidak. Saya yakin, kalau kita mengurus  orang lain, Allah pasti mengurus keluarga kita. Kami sebagai sebagai orangtua selalu berdoa buat mereka. Dan  jangan lupa, pengaruh doa itu sangat kuat bagi anak-anak.  Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa. Dengan doa ada ketenangan. Alhamdulillah, anak saya baik-baik saja walaupun jauh dari orangtua. Bahkan anak saya ada yang menjadi santri teladan.

Maksud Anda doa lebih kuat ketimbang ucapan dan tindakan?
Dalam al-Qur`an ada Surat Muzammil. Dalam surat ini kita diperintahkan shalat malam. Setelah shalat malam kita disuruh mengkaji al-Qur`an. Siapa saja melakukan dua hal itu, Allah menjamin memberikan perkataaan yang berbobot atau bermutu. Perkataan yang berbobot ini penting dalam proses pendidikan anak.
Selain itu, orang yang rajin shalat malam dan membaca al-Qur`an bakal lebih dekat pada Allah. Orang yang dekat dengan Allah, itu lebih menonjol hati nurani ketimbang perasaan dan pikirannya. Termasuk dalam mendidik anak, dia bakal lebih banyak menggunakan hati nurani. Karena menggunakan hati nurani, maka  bakal nyambung dengan hati nurani anak-anak dan istri. Nah, di sinilah fungsi doa itu.

Ada contoh dalam sejarah?
Kita ingat sejarah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Ketika ingin menaklukkan Umar bin Khathab, sebelum melangkah dan bicara, beliau berdoa dulu sehingga saat bertemu dengan Umar yang bicara bukan dorongan perasaan dan pikirannya, melainkan hati nuraninya. Orang yang bicara dengan nurani, tentu beda dengan orang yang bicara atas dasar emosi dan logika.

Semua anak Anda kirim ke pesantren. Inspirasi dari mana? 
Saya terisnpirasi keluarga Imran. Keluarga Imran itu kurangnya apa? Mereka merupakan gambaran keluarga yang sholeh. Tapi mengapa untuk mengasuh anaknya, Maryam, dititipkan kepada orang lain? (kisah keluaga Imran ini ada pada al-Qur’an surat Ali Imran)
Ternyata, pengaruhnya sangat nyata, antara anak yang selalu dekat dengan orangtua dibanding dengan anak yang sejak kecil sudah masuk pesantren atau jauh dari orangtua. Pengalaman saya, anak yang selalu kumpul dengan orangtua, biasanya sangat patuh pada guru, tapi jika di rumah sulit diatur. Jadi, kesimpulan saya, perbedaannya dahsyat sekali. Anak yang dekat dengan orangtua (secara fisik) cenderung melanggar aturan, justru yang jauh lebih patuh pada orangtua. 

Anak Anda berjauhan, apa problem mendidik mereka? 
Hampir tidak pernah ada. Alhamdulillah, semua anak saya mulus-mulus saja. Apalagi anak yang terakhir, dia takut sekali kalau ketemu wanita.

Semua anak Anda tidak ada yang sekolah di sekolah umum?
Tidak ada. Mereka tidak ada yang tertarik untuk mendapat ijazah dari sekolah.  Yang penting, kata mereka,  mencari ilmu. Soal ijazah gampang, bisa ikut ujian persamaan. Padahal saya sendiri juga tak punya ijazah. Saya menilai, ‘nilai berhala’ ijazah jauh lebih tinggi ketimbang manfaatnya. Karena itu saya sengaja tak mengambil ijazah di IAIN Sunan Kalijaga, padahal sudah semester akhir.
Anak saya ada yang pindah-pindah sekolah dan itu tidak masalah buat saya.

Lantas, apa yang Anda harapkan dari anak-anak?
Masing-masing anak punya bakat dan kecenderungan sendiri. Tugas kita adalah mengantarkannya. Yang terpenting masih dalam koordinasi satu jamaah. Tanpa jamaah, maka boleh dibilang segala potensi akan sia-sia.

Sebagai dai, Anda sering meninggalkan rumah, bahkan sampai berminggu-minggu. Bagamaina dengan keluarga? 
Minggalkan rumah atau tidak, bagi saja sama saja. Karena toh di rumah juga tidak ada orang. Istri juga kerap memberi pengajian kepada para jamaah. Justru kalau tugas ke daerah saya malah bisa bertemu dengan anak. Misalnya ke Surabaya, saya mampir ke Darul Hijrah (pesantren tahfidz milik Hidayatullah Surabaya) menengok anak bungsu saya.
Jadi, rumah itu bagi saya seperti tempat transit saja. Dalam satu bulan, saya bisa sama sekali tidak di rumah. (Sebagai anggota Dewan Syura Hidayatullah, Anwari sering pergi ke berbagai derah melakukan tugas pembinaan di Cabang-cabang)….>>>


nya yang menghafal al-Qur`an, Anwari mengaku bukan hasil arahannya. “Itu kemauan anak-anak sendiri,” tambah pria yang rajin olahraga bulutangkis dan tenis meja ini. “Saya hanya mendoakan saja.”
Bagaimana resep Anwari mendidik putra-putrinya, mengapa ia menaruh anak-anak di pesantren dan bagaimana pula sejarah berhidayatullahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, hidayatullah.com menemui  Anwari di rumahnya yang sederhana di pinggir danau Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Rumah itu berdinding dan berlantai kayu, sama dengan rumah lain di Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kami diterima di ruang tamu yang benar-benar minimalis. Tak ada sehelai pun barang berharga di situ, selain beberapa buku.
Ditemani sepiring pisang goreng, kami ngobrol dengan pria yang pernah kuliah tafsir di IAIN Sunan Kalijaja, Yogyakarta ini. Ikkuti hasil wawancara dengan Anwari pada artikel berikutnya. 


Bersikap Lembut Ketika Mendidik Anak

Para orang tua masih banyak yang bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga anak-anak merasa bagaikan di neraka.

 
RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengajarkan bagaimana cara mendidik seorang anak yang masih kecil melalui sabda beliau,
“Wahai anak, apabila engkau makan, maka ucapkanlah ‘Bismillah‘ dan makanlah dengan menggunakann tangan kanan, serta ambillah hidangan yang terdekat darimu.“ (HR. Thabrani dengan sanad sahih).
Abu Hafsh, anak angkat Rasulullah, pernah bercerita, “Tanganku secara terburu-buru memegang shafhah (tempat makan), maka Rasululllah menegur dengan berkata, ‘Wahai anakku, ucapkanlah Bismillah sebelum engkau makan’.“ Hadist ini menunjukkan bahwa doa ketika hendak makan adalah Bismillah saja, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah,
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah mengucapkan Bismillah. Jika ia lupa, kemudian teringat di tengah-tengah ia sedang makan, maka ucapkanlah dengan lafazh ‘Bismillahi Awwaluhu wa Akhiruhu (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya).” (HR. Tirmidzi dengan sanad sahih).
Ada sebuah riwayat yang menyatakan, “Ketika Rasulullah hendak menyuapkan makanan kepada Hasan bin Ali (cucu beliau), kemudian beliau melihat seorang anak kecil yang mulutnya dibuka lebar dan lidahnya dijulurkan keluar, maka beliau bergegas menuju kepada anak tersebut dan menyuapkan makanan kepadanya.“ (Hadits hasan).
Pernah suatu ketika Rasulullah sedang melakukan shalat, ketika saat sujud, Hasan dan Husein naik ke punggung beliau dan para sahabat hendak mencegahnya. Akan tetapi, beliau mengisyaratkan untuk membiarkan mereka berdua. Peristiwa itu terjadi di dalam masjid. Setelah pelaksanaan shalat berjamaah selesai dilakukan, beliau meletakkan kedua cucunya itu di atas batu.
Pada riwayat yang lain diceritakan,
“Ada seorang badui mendatangi Rasulullah dan bertanya, ‘Apakah engkau mencium anak-anak kecil, sungguh kami tidak mencium?’ Maka beliau menjawab, ‘Apakah harus aku biarkan engkau agar Allah menghilangkan rasa kasih dan sayang dari hatimu?” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan,
“Nabi saw mencium Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al ‘Aqra bin Habits At-Tamimi. Lalu Al ’Aqra berkata kepada beliau, ‘Aku memiliki sepuluh orang anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Maka Rasulullah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak penyayang, maka ia tidak akan disayang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para orang tua masih banyak yang menganggap remeh sikap jenaka (bercanda) dengan anak-anaknya atau bersikap lembut kepada mereka. Bahkan cenderung bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga untuk bergerak atau bermain pun dilarang dan juga mengekang kebebasan anak. Sampai-sampai kehidupan anak-anak terasa bagaikan di neraka. Anak-anak tumbuh dengan berhati keras, membenci orang tua dan mungkin ada niatnya untuk berusaha lari dari rumah.
Rasulullah telah memberi contoh dalam kehidupannya, di mana beliau juga bercanda dan bersikap lembut kepada anak-anak. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita mempelajari dan mencontoh biografi beliau serta berusaha untuk berbuat adil kepada anak-anak dengan membentuk kehidupan yang penuh kegembiraan lagi bahagia bagi anak-anak. Namun demikian, sikap seperti itu juga memiliki batasan yang tentunya tidak melalaikan pendidikan mereka.
Contoh yang diberikan oleh Rasulullah ini banyak diabaikan oleh mereka yang selalu bertindak kasar terhadap anak-anak yang tengah bermain di masjid, yaitu, pada saat mereka bermain-main di dalam atau di sekitarnya. Bahkan, terkadang mereka memarahi anak-anak tersebut dan mengusirnya dari Baitullah. Ingatlah, bahwa tindakan seperti itu merupakan suatu kerugian yang merusak.
Setelah kejadian itu, lalu para sahabat menggantungkan dahan pohon kurma yang sudah berbuah dengan tujuan agar anak-anak senang berada di sekitar masjid dan memakannya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Kado Perkawinan, penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Kamis, 14 Desember 2017

Khusyuk dalam Shalat

                                                                                    Oleh: Faisal Baaras
Apabila sudah mampu merasakan nikmatnya shalat, itu berarti sudah sampai pada makamnya shalat khusyuk. Sesungguhnya, shalat khusyuk adalah manifestasi dari meningkatnya persepsi Ilahiyah seseorang yang sudah merasakan nikmatnya shalat itu.

Shalat pada hakikatnya hanya terdiri dari dua hal, yaitu pengakuan dan permohonan—pengakuan kita tentang keesaan Allah dan permohonan kita yang ditujukan hanya kepada-Nya untuk kemaslahatan kita di dunia dan akhirat nanti.

Shalat adalah berdialog dan mengadu kepada Allah—yang secara khusus telah ditetapkan-Nya, ketika Nabi Muhammad menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Oleh karena itu, ruh shalat kita hendaknya seperti isra dan mikrajnya Nabi Muhammad waktu itu. Yakinlah bahwa kita memang sewaktuwaktu pasti akan menghadap kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.

Maka, untuk meraih shalat yang khusyuk, diperlukan persiapan jasmani dan ruhani terlebih dahulu, sebagai berikut:

Pertama, setiap kali hendak shalat, persiapkan batin kita lebih dahulu bahwa kita hanyalah sebutir debu yang akan bermunajat dan mengadukan keadaan diri kita hari itu kepada Allah Yang Maha Esa. La ilaaha illallah—tidak ada "tuhan-tuhan" lain apa pun yang perlu ditakuti—apa pun itu wujudnya, kecuali takut, taat, takwa hanya kepada Allah. Ingatlah, senantiasa ada Allah di dekat kita, meliputi kita. Merasa takut pada hal-hal lain—selain takut kepada Allah—bisa dikatagorikan syirik.

Kedua, lakukan gerakan-gerakan shalat dari posisi yang satu ke posisi berikutnya dengan perlahan, halus, dan lembut. Jangan cepat-cepat, tergesa-gesa. Dan sempurnakan setiap posisi dalam shalat kita lebih dahulu sebelum mulai membaca bacaan-bacaan shalat.

Ketiga, bacalah bacaan shalat itu ayat per ayat dengan tartil, perlahan—simak tiap kata yang keluar dari bibir kita — dan jeda sejenak (tumakninah) di akhir tiap ayat untuk menghayati maknanya.

Keempat, libatkan seluruh perasaan kita sampai terasa merinding di seluruh pori-pori kulit kita--bahwa kita bukan siapa-siapa—hanya sebutir debu yang sedang mengadukan seluruh persoalan hidupnya, kelemahan-kelemahannya dan ketakutanketakutannya, dalam dialog yang panjang dengan Yang Maha Pencipta alam semesta ini: Allah yang Maha Esa.

Kelima, di akhir shalat sebelum beranjak dari sajadah, renungkanlah bahwa kita diturunkan di bumi oleh Allah adalah untuk menebarkan rahmatan lil alamin sebagai misi kita. Perbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa kita—untuk menghapus kesalahan dan dosadosa harian kita di hari itu. Dan yakinlah, belum tuntas doa-doa yang kita ucapkan, Allah sudah mengabulkan doa-doa itu dengan cara-Nya—untuk kebaikan kita di dunia dan pertemuan kita di akhirat nanti.

"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya (shalat) itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS al- Baqarah [2]: 45-46).n


sumber :                                           REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Faisal Baaras

Rabu, 11 Oktober 2017

Wudhu Amalan yang Mudah, Tapi Besar Balasannya


 

Oleh:  Ustaz Mohammad Zaitun Rasmin, Ketua Komisi Dakwah MUI
Ada sebuah amalan yang sangat mudah dilakukan namun besar balasannya yakni berwudhu. Wudhu sendiri ialah mensuci atau membasuh seluruh anggota badan tertentu dengan air sebelum mengerjakan shalat (shalat wajib maupun shalat sunah). Wudhu adalah syarat sah shalat, bila seseorang melakukan shalat tanpa berwudhu maka shalatnya tidaklah sah.

Seperti Sabda Nabi Muhammad SAW : “Tidak diterima Sholatmu tanpa Bersuci atau Wudhu “(HR. Muslim). Juga sabda nabi ” Bersuci atau Berwudhu adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim)

Namun berwudhu dengan tidak berpakaian apakah dilarang? Bahwa tidak ada yang salah jika seseorang berwudhu dalam keadaan tidak memakai pakaian. Sebab ada alasan yang membuat seseorang tersebut berwudhu tanpa pakaian.

Berwudhu tidak dalam berpakain tidak masalah. Sebab Rasulullah SAW. mengajarkan kita mandi wajib. Dimana itu didahului dengan membersihkan kemaluan kemudian kita berwudhu. Ketika itu tentu saja tidak dalam berpakaian.

Namun, jika di luar alasan tersebut, alangkah baiknya ketika berwudhu menggunakan pakaian. Hal tersebut memang tidak dilarang, namun berkaitan dengan adab dan etika dalam berwudhu.

Selain itu berwudhu memiliki banyak manfaat bagi manusia seperti yang dijelaskan Rasulullah dalam sabdanya seperti berikut ini : “Barang Siapa yang Berwudhu secara Sempurna, maka dosa – dosanya akan gugur atau hilang di jasad-nya hingga keluar juga dari bawah kuku-kukunya” (HR. Muslim)

Seseorang yang tidur dalam keadaan suci atau telah berwudhu, maka para Malaikat mendoakan orang tersebut, memintakan ampun pada Sang Rabb. Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sucikanlah badan-badan kalian, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidak ada seorang hamba pun yang tidur malam dalam keadaan suci melainkan satu Malaikat akan bersamanya di dalam syi’aar, tidak satu saat pun dia membalikkan badannya melainkan satu Malaikat akan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur malam dalam keadaan suci.”

Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidur dalam kedaan suci, maka Malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dan tidaklah ia bangun melainkan Malaikat berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena ia tidur dalam keadaan suci".

sumber dari : REPUBLIKA.CO.ID

Senin, 02 Oktober 2017

PENTINGNYA PENGUATAN AKHLAK


BOGOR -- Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Bogor, TB Luthfie Syam mengaku prihatin melihat ulah pelajar yang menenggak minuman keras hanya karena putus cinta pada Rabu (27/9) lalu. Ia beranggapan perlu adanya penguatan pendidikan karakter, moral dan akhlak siswa di kabupaten Bogor.

"Walaupun itu anak Madrasah Tsanawiyah (MTs) ya, dan bukan wewenang Disdik. Tapi saya perlu sebagai pendidik sangat prihatin. Ini musibah bagi dunia pendidikan," ungkap Luthfie saat dihubungiRepublika, Ahad (1/10).

Adapun untuk pengawasan dan pencegahan yang terbaik, menurut dia, dapat dilakukan dengan penguatan diri dan mental siswa. Sebab, bukan hanya guru dan orang tua yang mendidik mentalitas seorang anak, melainkan aspek lingkungan juga berpengaruh.

"Artinya daya tahan anak mesti terus dibangun, dan yang paling penting. Karena kekuatan dia secara moral dan karakter yang bisa menangkal itu (perbuatan tidak baik)," jelas Luthfie.

Luthfie menerangkan, sekitar 90 persen masyarakat Kabupaten Bogor merupakan muslim. Oleh sebab itu, pihaknya meluncurkan program belajar Tarsyana (Tartil, syar'i dan nadham) sebagai bentuk penguatan karakter anak. Program Tarsyana tersebut, lanjut Lutfhie, telah disosialisasikan sejak tahun 2016, dan kini pihaknya sedang mengupayakan agar program tersebut dapat dilakukan disemua sekolah di kabupaten Bogor.

"Tarsyana itu metode untuk anak-anak dalam membaca Alquran. Kenapa penguatan dengan Al-Quran? Sebab ada banyak penelitian menyebutkan, anak yang bisa baca Alquran punya akhlak lebih bagus. Daya tahan lebih kuat," tegas Luthfie.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Bogor, Nurhayanti menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor akan segera menertibkan warung-warung jamu yang diduga menjual minuman keras. Hal itu akan dilakukan, mengingat semakin mudahnya siswa mendapat minuman haram tersebut.

"Warung jamunya rencananya akan ditertibkan," tegas Nurhayanti melalui pesan singkatnya kepada Republika

sumber dari : REPUBLIKA.CO.ID
sumber gambar : www.muhammadiyahlamongan.com

Zikir Itu Obat Hati

 Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Subhanallah,  dosa itu membuat kamu gelisah, zikir itulah"dawaauhu", obatnya.

Simaklah Kalam Allah ini dengan iman:  "Dan orang orang beriman itu tenteram hati mereka dengan berzikir, ketahuilah hanya dg berdzikir hati itu akan tenteram." (QS Ar Ro'du 28).

“…Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS Ali Imran 41).

"Barang siapa yang tidak mau mengingat Aku,  dia akan mendapat kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta." (QS Thaha 124).

"Maka ingatlah kamu kepada-Ku supaya Aku ingat pula kepadamu dan syukurlah kamu kepada-Ku dan janganlah kamu menjadi orang yang kufur." (QS Al baqarah 152).

Rasulullah bersabda, "Maukah kuberitahukan kepadamu suatu amalan yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhanmu, dan paling menaikkan derajatmu, dan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagimu daripada berjuang melawan musuh, kamu membunuh musuh atau musuh membunuhmu?", para sahabat menjawab, “ya”. Sabda beliau, "zikrullah” (HR Ahmad, Tarmidzi, Ibnu Majah).

Insya Allah Ahad,  besok  Ahad, 11 Muharam 1439H / 1 Oktober 2017, Majelis Az-Zikra akan kembali menggelar Tausiyah Zikir Akbar di Masjid Az-Zikra Sentul,  Bogor, Jawa Barat. Acara dimulai pukul  07.00.

Ba’da Zhuhur, tepatnya pukul 12.30, akan dilanjutkan dengan siaran langsung Damai Indonesiaku TVOne dengan tema, "Urgensi Nikah". Acara tersebut akan menampilkan nara sumber Habib Jindan bin Novel, Ustaz Arifin Ilham dan Muhammad Alvin Faiz.

Allahumma ya Allah berkahi majlis zikir, persahabatan dan harakah da'wah kami. Aamiin

Di kutip dari : REPUBLIKA.CO.ID,

Jumat, 29 September 2017

Menjadi Muslimah Ahli Ibadah

    JAKARTA -- Muadzah binti Abdullah al-Adawiah al-Bashariah Ummu ash-Shahba adalah perempuan yang pandai. Dia adalah istri seorang pemimpin teladan, Shilah bin asyim. Keduanya adalah penghamba Allah SWT dan ahli ibadah.

Ada cerita menarik dan menyentuh dalam sejarah pernikahan antara Muadzah dan Shilah. Ketika dia diserahkan kepada suaminya, keponakan Shilah mempersilakan Muadzah ke kamar mandi. Ia kemudian memasukkannya ke dalam rumah pengantin yang indah. Di dalam rumah tersebut tercium aroma wangi yang memancarkan sebaik-baik minyak wangi.

Suami istri itu berada dalam satu rumah. Shilah mengucapkan salam kepada Muadzah. Kemudian, dia mendirikan shalat. Muadzah berdiri di belakangnya dan mengikuti ibadah yang dilakukan suaminya. Hingga fajar menyingsing, keduanya larut dalam shalat. Mereka lupa bahwa itu malam pengantin.

Keesokan harinya, keponakan Shilah datang untuk menengok mereka. Keponakannya berkata, "Wahai pamanku, putri pamanmu telah diserahkan padamu tadi malam. Lalu engkau melakukan shalat dan membiarkannya?"

Dia menjawab, "Wahai keponakanku, sesungguhnya engkau telah memasukkan aku ke dalam rumah (ke kamar mandi). Keadaan tersebut mengingatkanku pada neraka. Lalu engkau memasukkan aku ke dalam rumah (ke kamar pengantin) pada sore hari. Keadaan itu mengingatkan aku pada surga. Dalam pikiranku hanya terdapat surga dan neraka hingga fajar menyingsing."

Setelah menikah, Muadzah menghidupkan semua malamnya untuk beribadah. Sifat bijaksana mengalir dari lisannya. Dia berkata, "Aku heran kepada mata yang tidur, padahal dia mengetahui betapa lamanya terpuruk dalam kegelapan kubur."

Ketika suami dan anaknya gugur dalam medan peperangan, para perempuan berkumpul di rumah Muadzah. Dia bukan melihat kepergian permata hatinya sebagai kabar duka, melainkan buah perjuangan yang dijanjikan surga. Ia berkata, "Selamat datang jika kalian ingin mengucapkan selamat, tetapi jika kalian ingin (mengucapkan) selain itu, pulanglah."

Muadzah juga berkata, "Demi Allah, aku hanya ingin hidup untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai wasilah. Semoga saja aku bisa berkumpul dengan suami dan anakku di surga."

Ketika menjelang ajal, Muadzah tampak menangis, lalu ia tertawa. Dia pun ditanya mengenai hal tersebut. "Apa yang membuat engkau menangis lalu tertawa?"

Dia menjawab, "Aku menangis sebab aku mengingat akan meninggalkan puasa, shalat, dan zikir. Adapun aku tertawa sebab aku melihat Abu ash-Shahba (suaminya) menyambut di depan rumah dengan membawa nampan berisi dua sutra hijau dan aku tidak akan memiliki kewajiban apa pun setelah wafat nanti."

Itulah firasat seorang ahli ibadah seperti Muadzah. Dia wafat sebelum masuk waktu shalat. Selama hidupnya, Muadzah meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Aisyah, dan Hisyam bin Amir.

Adapun orang yang meriwayatkan darinya adalah Abu Qulabah al-Jarami, Yazid ar-Risyk, Ashim al-Ahwal, Umar bin Dzar, Ishaq bin Sarid, Ayub as-Sakhtiani, dan lainnya. Hadis yang diriwayatkannya shahih. Yahya bin Amin menyatakan, Muadzah adalah orang terpercaya. Ia wafat tahun 83 Hijriyah


Dikutip dari  REPUBLIKA.CO.ID,

Ini Keutamaan Puasa Asyura Menurut Nabi SAW


        Di bulan Maharram ini, ada dua puasa sunah yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dilaksanakan. Keduannya yakni puasa Asyura dan puasa Tasu’a. Karenanya, Ketua Komisi Dakwah MUI Ustaz Mohammad Zaitun Rasmin mengingatkan, agar umat Islam tidak lupa untuk melasanakan kedua puasa tersebut hari ini dan esok. 

Kata dia, tak ada ruginya mengerjakan amalan puasa tersebut. Bahkan, hal itu menguntungkan bagi seorang Muslim sebab dengan berpuasa Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.

"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah salat malam." (HR. Muslim)

"Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Diceritakan Rasmin, awal mula Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa Asyura dan Tasu’a ketika ia menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah sedang berpuasa. Lantas, Rasulullah bertanya kepada orang-orang Yahudi untuk apa mereka berpuasa. Maka, mereka mengatakan alasan mereka berpuasa karena selamat dari kejaran Firaun.

Mendengar perkataan mereka, Rasulullah berkata, “Wah kalau begitu yang pantas mensyukuri Musa itu aku.”

Atas dasar itu kemudian Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berpuasa di tanggal 10 maharam atau disebut dengan puasa asyuro. Kemudian Beliau mengatakan, bahwa di tahun berikutnya ia akan berpuasa di tanggal 9 muharam atau disebut dengan puasa tasu’a.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma dia berkata : "Rasulullah shallallah 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila (usia) ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan." (HR. Muslim).

“Jadi asalnya tanggal 10 kemudian Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk melakukan puasa di tanggal 9 supaya tidak menyerupai orang Yahudi. Sebab Nabi selalu ingin kaum Muslimin jangan menyerupai yahudi dalam hal apapun, terutama dalam hal ibadah,” kata Rasmin.

Berpuasa asyuro dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar dapat terhapus dengan cara bertobat dan tidak mengulanginya lagi. “Perbedaannya biasanya dosa-dosa besar itu ada hukuman atau ancaman yang sangat pedih di hari kiamat nanti. Seperti meninggalkan shalat, zina, minum-minuman keras, menipu, mencuri, dan durhaka kepada orang tua, itu semua dosa besar,” ujarnya.
Dikuti dari  REPUBLIKA.CO.ID

Kamis, 28 September 2017

Mendidik Anak Berkarakter


Saat pertemuan rutin dengan orang tua setiap tiga bulan atau saat wawancara dengan orang tua calon siswa baru yang sekarang sedang berjalan. Saat ditanya; apakah motivasi memasukkan anaknya ke SD Integral? Apakah yang paling menentukan keberhasilan anak-anaknya saat mereka dewasa? Ternyata mayoritas jawaban mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan pembiasaan nilai-nilai Islami, sifat, perilaku, kepribadian, atau karakter seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, percaya diri, tanggung jawab, kerjasama, dll. 

Namun fenomena yang terjadi di dunia pendidikan kita justru sebaliknya. Hampir setiap tahun, saat penerimaan siswa baru, orang tua berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah-sekolah favorit berdasarkan hasil Ujian Nasional (kognitif) walaupun lingkungan sekolah tersebut sering tidak mendukung bagi perkembangan karakternya. 

Di sinilah kita bisa melihat adanya pola pikir yang parsial; disatu sisi orang tua meyakini akan posisi karakter bagi keberhasilan masa depan anak-anaknya, tetapi pada posisi yang lain mereka lebih memilih aksi-aksi jangka pendek dengan memilih sekolah yang mengagungkan kognitif. 

Sayang sekali jika sekolah hanya terlihat sebagai mesin industri pengkarbitan. Artinya, sekolah hanya lebih berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berlangsung; anak-anak belajar dengan cara yang sama, membangun 90% kognitif dengan 10% afektif. Sekolah hanya mengerti mereka mendapatkan nilai akademik yang tinggi, namun sekolah tidak mengerti bahwa sebenarnya mereka butuh sekolah untuk menyongsong masa depannya! 

Peran pelajaran agama nyaris tidak tampak. Yang disebut sebagai pendidikan agama hanya pelajaran untuk menghafal materi agama, hampir sama dengan pelajaran IPA, Matematika, dan pelajaran yang lain. Penambahan jam agama pun tidak membangkitkan ruhiyah mereka. Akibatnya, mereka mengalami dereligiusitas dan despiritualitas yang menyedihkan. Reduksi agama harus dihentikan! 

Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbuhkan dan dikokohkan, sehingga menjadi penggeraak hidup yang sempurna. Nilai-nilai agama harus mewarnai keseharian mereka dalam menyongsong masa depannya. Dengan ruh agamalah mereka memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah untuk menggerakkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak. 

Disadari atau tidak, kita pada saat ini telah digiring untuk membentuk anak kita menjadi manusia-manusia instant yang sekali pakai, dan tidak bertahan lama. Hal ini semakin terasa, disaat menjelang ujian akhir sekolah atau ujian nasional. Dimana pada saat itu banyak orang tua yang dengan gencarnya mencari “lembaga bimbingan belajar” untuk mendrill dan ‘memaksakan’ anak-anaknya agar bisa menguasai bidang studi yang diujikan, dalam waktu yang relatif singkat. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena memang pendidikan kita belum menjadikan pembentukan karakter sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan, dan masih menjadikan ‘angka-angka’ sebagai patokannya. Akibatnya banyak sekolah-sekolah yang memberi nilai ‘instan’ hanya untuk memenuhi ambisi orang tua dan menjaga citra sekolahnya sebagai sekolah yang unggul dan berprestasi. Padahal Imam syafi'i mengatakan," Tak akan kau dapatkan ilmu kecuali dengan waktu lama, bersahabat dengan guru, ada biaya yang cukup, rajin, dan ulet........" 

Keberadaan sekolah Integral yang berbasis tauhid mencoba untuk mengembalikan ruh pendidikan yang telah hilang sebagaimana yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW. Kita bisa melihat bagaimana keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, yaitu dengan pendidikan berbasis tauhid (wahyu). Sebab itu, salah satu pendekatan yang telah dilakukan oleh SD Integral adalah bagaimana anak-anak yang diamanahkan oleh orang tua dapat dioptimalkan potensinya sehingga menjadi manusia yang utuh dengan memiliki karakter berdasarkan nilai-nilai Islam. 

Pendidikan yang seutuhnya adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru dan orang tua sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”.  

Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan karakter menyebutkan ada tiga komponen di dalam pendidikan karakter yaitu Pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan perbuatan bermoral (moral action). Sesorang perlu mengetahui tentang nilai-nilai moral dan etika, tetapi perlu juga membangun perasaan untuk menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan nilai moral, kemudian memastikan anak untuk mencoba dan memulai melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan ketiga komponen di atas, pendidikan karakter tidak cukup dengan kata-kata , ia perlu contoh riil dari orang tua, pendalaman terhadap contoh-contoh tersebut dengan penjelasan-penjelasan dan refleksi tindakan anak, serta membangun sebuah lingkungan yang memastikan anak mudah untuk melakukannya dalm kehidupan mereka sehari-hari. Tugas sekolah hanya membantu orangtua untuk mengantarkan anak-anaknya mencapai tahap perkembangannya untuk mengetahui hakikat dirinya ada di dunia ini. Selebihnya dukungan dan kesungguhan orang tua dengan memberikan teladan yang baik. Anak-anak kita pun merasa bahwa ia tidak sendiri untuk menemukan jatidirinya, tetapi orang tua mereka pun ikut serta mengantarkan dirinya untuk menjadi hamba Allah SWT yang beruntung. ||  

Penulis : Achmad Bashori, S.Pd, Kepala SD Integral Luqman al Hakim Purwodadi-Grobogan 
Dikutip dari : www.sdithidayatullah.net

DIBALIK KEHIDUPAN INSAN BERNAMA: MUHAMMAD

Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.
Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan  keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan:
Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah
selesai sembahyang “.

Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu.Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira ?"
(Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') Aisyah menjawab dengan agak serba salah, Belum ada apa-apa wahai Rasulullah “.
Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini ”. tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda,” Sebaik-baik lelaki adalahyang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya ". Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat.
Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seakan sendi-sendi pada tubuh baginda bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
” Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah anda menanggung penderitaan yang amat berat, sakitkah anda ya Rasulullah ?"
” Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar "
” Ya Rasulullah... mengapa setiap kali anda menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh anda? Kami yakin engkau sedang sakit..." desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar.Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda. ” Ya Rasulullah!
Adakah bila anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat anda ?"  Lalu baginda menjawab dengan lembut,
” Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya ?”” Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku,agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia inilebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak ”.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi
hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw
menolak sama sekali rasa ketuanan. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan. Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, ” Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?" Jawab baginda dengan lunak,
” Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur ”.

Rasulullah S.A.W. Bersabda :
"Sampaikan pesanku walau sepotong ayat"

SEMOGA KITA DAPAT MENCONTOH
SIFAT DAN PERILAKU BELIAU DENGAN SEKUAT TENAGA,
KARENA SEBAIK-BAIK TELADAN ADALAH ROSULULLAH MUHAMMAD SAW.


Rabu, 27 September 2017

MENELADANI “KASIH SAYANG” RASULULLAH

Tujuan Rasul di Utus
Adapun diantara tujuan diutusnya Rasulullah SAW adalah : 1). Sebagai basyir/pembawa kabar gembira, 2). Sebagai mundzir/pemberi peringatan, 3). Sebagai rahmat bagi seluruh alam, 4).Sebagai uswatun hasanah/suri tauladan yang baik.
Allah telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh teladan bagi orang yang beriman. Misi yang beliau emban adalah menyebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.bahkan kepada seluruh alam. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-anbiya ayat : 107 yang artinya : Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Iman At-Tabrani Rasulullah bersabda : Innamaa yarhamullaahu min ibaadihir ruhamaa-u.artinya : Sesungguhnya yang dikasihi Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang bersifat kasih sayang. (HR.  Thabrani).
Maka dalam moment ini kami mengajak pada kaum muslimin semua dalam rangka memperingati maulid Nabi besar untuk lebih mengingat kembali serta menghayati karakter-karakter positif ada pada pribadi rasullah SAW.  Dan seterusnya…………..
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Angka perceraian di Indonesia jauh lebih besar ketimbang di Inggris. Di Indonesia 10%,  sementara di Inggris 1,2 %. Rasanya agak aneh, karena sebagian besar penduduk kita beragama Islam, dan Islam adalah agama yg mementingkan kasih sayang sebagaimana Allah SWT yang memiliki sifat Ar Rahman dan Ar Rahim, maha  pengasih dan maha penyayang.
Memang perceraian adalah sesuatu yang yang di bolehkan dalam Islam meski dibenci oleh Allah. Menurut data dari Kementerian Agama tahun 2010 bahwa penyebab terbesar penceriaian di Negara kita adalah factor ketidakharmonisan, dan kekerasan dalam rumah tangga(KDRT). Itu berarti, rasa kasih sayang telah hilang di hati mereka, minimal dihati salah satu dari itu.
Itu baru satu fenomena saja. Masih banyak fenomena lain di negeri ini yang mengindikasikan betapa sifat kasih sayang ini sudah banyak yang hilang. Misalnya, saling membunuh,menindas,menyikut, perpeloncoan di lembaga-lembaga pendidikan, saling tuding yang ini semua sudah menajadi sajian utama dalam kehidupan kita.
Jelas ini ada yang salah dengaan kita. Kasih sayang sebagai pilar pembangun peradaban Islam telah hilang pada kelompok masyarakat yang paling kecil, yakni keluarga. Ini berakibat pula hilangnya kasih sayang pada kelompok masyarakat yang lebih besar.

Kasih Sayang Adalah Kunci Semua Amalan

Kasih sayang manusia ini sangat terbatas,karena betapun tulusnya kasih sayang manusia pasti ada pamrihnya. Tapi kasih sayang Allah SWT tanpa terbatas pada dimensi ruang dan waktu. Buktinya kasih sayang itu tetap diberikan kepada siapapun sekalipun ia mengingkariNya. Kita diciptakan karena kasih sayangNya, bumi diciptakan sebagai tempat kita berpijak untuk memenuhi kebutuhan kita, ini juga sebagai bentuk kasih sayangNya.
 Kita juga tidak dibiarkan hidup sendiri. Allah menanamkan rasa cinta dalam hati kita lawan jenis. Kemudian kita menikah dan hidup berpasang-pasangan. Kita beranak pinak dalam sebuah ikatan keluarga. Bukankah ini semua adalah bentuk kasih sayang Allah ?
-          Jelaskan hadits di tarbiyati

Desain Kasih Sayang dari Allah  
Semakin kita sering membaca kasih sayang Allah SWT, maka semakin tumbuh rasa syukur dan cinta kepadaNya. Pelan-pelan tumbuh keinginan untuk meneladani dan memiliki rasa kasih sayang sebagaimana yang dimiliki Allah SWT. Rasululllah SAW bersabda : “Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa memperhitungkannya (mengenal dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu), dia masuk surga.”(HR Bukhori).
Setiap hari, kkita tidak kurang dari 17 kali membaca surah al-fatihah pada setiap rakaat shalat. Disitu kata ar-rahman dan ar-rahim kit abaca. Belum lagi ketika kita mau melaksankan setiap aktifitas kita awali dengan basmalah. Itu artinya bahwa seluruh perbuatan kita adalah atas nama Allah SWT. Sehingga  tidak bisa tidak, sebagai khalifah, seluruh amalan kita harus mencerminkan kasih saying Allah.

Contoh teladan kasih sayang dari Rasulullah SAW :
1.       Ketika rasul datang ke thaif utk menyampaikan da’wahnya, beliau tdk meandapatkan sambutan yang menyenangkan. Sebaliknya, beliau dicaci, dimaki, diusir dan dilempari batu hingga terluka. Melihat kondisi seperti itu malaikat menawarkan untuk member balasan kepada penduduk tersebut dengan cara melongsorkan bukit dan menimbun mereka semuanya hidup-hidup. Namun sikap rasul tetap sabar dan tidak menerima tawaran tsb, bahkan beliau mendo’akan mereka dengan do’a “ Allahummahdi qoumy fa innahum laa ya’lamuun” Ya Allah berilah pwetunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Para sahabat bertanya : wahai Rasul engkau mendo’akan kepada orang-orang musyrik? Beliau menjawab : “sesungguhnya aku di utus bukan untuk mendatangkan laknat, tapi untuk menjadi rahmat”.
2.       Suatu hari rasul sedang menggendong seorang balita, tiba-tiba anak tersebut kencing di pakaian rasul dst ….
3.       Dan lain-lain…

Penyebab Hilangnya Kasih Sayang
1.       Virus Takatsur
2.       Sifat serakah yang telah menjangkit
3.       Sifat Dengki
4.       Takabbur
5.       Dendam

Resep Memelihara Sifat Kasih Sayang
1.       Ziarah Kubur
2.       Mempelajari Syariat
3.       Tanggung Jawab

Kesimpulan :
Dalam memperingati maulid Nabi kali ini, kami mengajak kepada kaum muslimin semua hendaknya kita selalu berupaya untuk :
Lebih mengenal lagi sosok nan agung dan bersahaja Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW, untuk ditauladani dalam seluruh aspek keperibadiannya, karena langkah ini adalah bentuk riil kita mencintai beliau.