SELAMAT DATANG DI WEB BALAI PENDIDIKAN AL IKHLAS KALIKOTES

Jumat, 29 September 2017

Menjadi Muslimah Ahli Ibadah

    JAKARTA -- Muadzah binti Abdullah al-Adawiah al-Bashariah Ummu ash-Shahba adalah perempuan yang pandai. Dia adalah istri seorang pemimpin teladan, Shilah bin asyim. Keduanya adalah penghamba Allah SWT dan ahli ibadah.

Ada cerita menarik dan menyentuh dalam sejarah pernikahan antara Muadzah dan Shilah. Ketika dia diserahkan kepada suaminya, keponakan Shilah mempersilakan Muadzah ke kamar mandi. Ia kemudian memasukkannya ke dalam rumah pengantin yang indah. Di dalam rumah tersebut tercium aroma wangi yang memancarkan sebaik-baik minyak wangi.

Suami istri itu berada dalam satu rumah. Shilah mengucapkan salam kepada Muadzah. Kemudian, dia mendirikan shalat. Muadzah berdiri di belakangnya dan mengikuti ibadah yang dilakukan suaminya. Hingga fajar menyingsing, keduanya larut dalam shalat. Mereka lupa bahwa itu malam pengantin.

Keesokan harinya, keponakan Shilah datang untuk menengok mereka. Keponakannya berkata, "Wahai pamanku, putri pamanmu telah diserahkan padamu tadi malam. Lalu engkau melakukan shalat dan membiarkannya?"

Dia menjawab, "Wahai keponakanku, sesungguhnya engkau telah memasukkan aku ke dalam rumah (ke kamar mandi). Keadaan tersebut mengingatkanku pada neraka. Lalu engkau memasukkan aku ke dalam rumah (ke kamar pengantin) pada sore hari. Keadaan itu mengingatkan aku pada surga. Dalam pikiranku hanya terdapat surga dan neraka hingga fajar menyingsing."

Setelah menikah, Muadzah menghidupkan semua malamnya untuk beribadah. Sifat bijaksana mengalir dari lisannya. Dia berkata, "Aku heran kepada mata yang tidur, padahal dia mengetahui betapa lamanya terpuruk dalam kegelapan kubur."

Ketika suami dan anaknya gugur dalam medan peperangan, para perempuan berkumpul di rumah Muadzah. Dia bukan melihat kepergian permata hatinya sebagai kabar duka, melainkan buah perjuangan yang dijanjikan surga. Ia berkata, "Selamat datang jika kalian ingin mengucapkan selamat, tetapi jika kalian ingin (mengucapkan) selain itu, pulanglah."

Muadzah juga berkata, "Demi Allah, aku hanya ingin hidup untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berbagai wasilah. Semoga saja aku bisa berkumpul dengan suami dan anakku di surga."

Ketika menjelang ajal, Muadzah tampak menangis, lalu ia tertawa. Dia pun ditanya mengenai hal tersebut. "Apa yang membuat engkau menangis lalu tertawa?"

Dia menjawab, "Aku menangis sebab aku mengingat akan meninggalkan puasa, shalat, dan zikir. Adapun aku tertawa sebab aku melihat Abu ash-Shahba (suaminya) menyambut di depan rumah dengan membawa nampan berisi dua sutra hijau dan aku tidak akan memiliki kewajiban apa pun setelah wafat nanti."

Itulah firasat seorang ahli ibadah seperti Muadzah. Dia wafat sebelum masuk waktu shalat. Selama hidupnya, Muadzah meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Aisyah, dan Hisyam bin Amir.

Adapun orang yang meriwayatkan darinya adalah Abu Qulabah al-Jarami, Yazid ar-Risyk, Ashim al-Ahwal, Umar bin Dzar, Ishaq bin Sarid, Ayub as-Sakhtiani, dan lainnya. Hadis yang diriwayatkannya shahih. Yahya bin Amin menyatakan, Muadzah adalah orang terpercaya. Ia wafat tahun 83 Hijriyah


Dikutip dari  REPUBLIKA.CO.ID,

Ini Keutamaan Puasa Asyura Menurut Nabi SAW


        Di bulan Maharram ini, ada dua puasa sunah yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dilaksanakan. Keduannya yakni puasa Asyura dan puasa Tasu’a. Karenanya, Ketua Komisi Dakwah MUI Ustaz Mohammad Zaitun Rasmin mengingatkan, agar umat Islam tidak lupa untuk melasanakan kedua puasa tersebut hari ini dan esok. 

Kata dia, tak ada ruginya mengerjakan amalan puasa tersebut. Bahkan, hal itu menguntungkan bagi seorang Muslim sebab dengan berpuasa Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.

"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah salat malam." (HR. Muslim)

"Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)

Diceritakan Rasmin, awal mula Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa Asyura dan Tasu’a ketika ia menjumpai orang-orang Yahudi di Madinah sedang berpuasa. Lantas, Rasulullah bertanya kepada orang-orang Yahudi untuk apa mereka berpuasa. Maka, mereka mengatakan alasan mereka berpuasa karena selamat dari kejaran Firaun.

Mendengar perkataan mereka, Rasulullah berkata, “Wah kalau begitu yang pantas mensyukuri Musa itu aku.”

Atas dasar itu kemudian Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berpuasa di tanggal 10 maharam atau disebut dengan puasa asyuro. Kemudian Beliau mengatakan, bahwa di tahun berikutnya ia akan berpuasa di tanggal 9 muharam atau disebut dengan puasa tasu’a.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma dia berkata : "Rasulullah shallallah 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila (usia) ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan." (HR. Muslim).

“Jadi asalnya tanggal 10 kemudian Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk melakukan puasa di tanggal 9 supaya tidak menyerupai orang Yahudi. Sebab Nabi selalu ingin kaum Muslimin jangan menyerupai yahudi dalam hal apapun, terutama dalam hal ibadah,” kata Rasmin.

Berpuasa asyuro dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar dapat terhapus dengan cara bertobat dan tidak mengulanginya lagi. “Perbedaannya biasanya dosa-dosa besar itu ada hukuman atau ancaman yang sangat pedih di hari kiamat nanti. Seperti meninggalkan shalat, zina, minum-minuman keras, menipu, mencuri, dan durhaka kepada orang tua, itu semua dosa besar,” ujarnya.
Dikuti dari  REPUBLIKA.CO.ID

Kamis, 28 September 2017

Mendidik Anak Berkarakter


Saat pertemuan rutin dengan orang tua setiap tiga bulan atau saat wawancara dengan orang tua calon siswa baru yang sekarang sedang berjalan. Saat ditanya; apakah motivasi memasukkan anaknya ke SD Integral? Apakah yang paling menentukan keberhasilan anak-anaknya saat mereka dewasa? Ternyata mayoritas jawaban mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan pembiasaan nilai-nilai Islami, sifat, perilaku, kepribadian, atau karakter seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, percaya diri, tanggung jawab, kerjasama, dll. 

Namun fenomena yang terjadi di dunia pendidikan kita justru sebaliknya. Hampir setiap tahun, saat penerimaan siswa baru, orang tua berbondong-bondong mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah-sekolah favorit berdasarkan hasil Ujian Nasional (kognitif) walaupun lingkungan sekolah tersebut sering tidak mendukung bagi perkembangan karakternya. 

Di sinilah kita bisa melihat adanya pola pikir yang parsial; disatu sisi orang tua meyakini akan posisi karakter bagi keberhasilan masa depan anak-anaknya, tetapi pada posisi yang lain mereka lebih memilih aksi-aksi jangka pendek dengan memilih sekolah yang mengagungkan kognitif. 

Sayang sekali jika sekolah hanya terlihat sebagai mesin industri pengkarbitan. Artinya, sekolah hanya lebih berorientasi kepada produk daripada proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berlangsung; anak-anak belajar dengan cara yang sama, membangun 90% kognitif dengan 10% afektif. Sekolah hanya mengerti mereka mendapatkan nilai akademik yang tinggi, namun sekolah tidak mengerti bahwa sebenarnya mereka butuh sekolah untuk menyongsong masa depannya! 

Peran pelajaran agama nyaris tidak tampak. Yang disebut sebagai pendidikan agama hanya pelajaran untuk menghafal materi agama, hampir sama dengan pelajaran IPA, Matematika, dan pelajaran yang lain. Penambahan jam agama pun tidak membangkitkan ruhiyah mereka. Akibatnya, mereka mengalami dereligiusitas dan despiritualitas yang menyedihkan. Reduksi agama harus dihentikan! 

Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbuhkan dan dikokohkan, sehingga menjadi penggeraak hidup yang sempurna. Nilai-nilai agama harus mewarnai keseharian mereka dalam menyongsong masa depannya. Dengan ruh agamalah mereka memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah untuk menggerakkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual anak. 

Disadari atau tidak, kita pada saat ini telah digiring untuk membentuk anak kita menjadi manusia-manusia instant yang sekali pakai, dan tidak bertahan lama. Hal ini semakin terasa, disaat menjelang ujian akhir sekolah atau ujian nasional. Dimana pada saat itu banyak orang tua yang dengan gencarnya mencari “lembaga bimbingan belajar” untuk mendrill dan ‘memaksakan’ anak-anaknya agar bisa menguasai bidang studi yang diujikan, dalam waktu yang relatif singkat. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena memang pendidikan kita belum menjadikan pembentukan karakter sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan, dan masih menjadikan ‘angka-angka’ sebagai patokannya. Akibatnya banyak sekolah-sekolah yang memberi nilai ‘instan’ hanya untuk memenuhi ambisi orang tua dan menjaga citra sekolahnya sebagai sekolah yang unggul dan berprestasi. Padahal Imam syafi'i mengatakan," Tak akan kau dapatkan ilmu kecuali dengan waktu lama, bersahabat dengan guru, ada biaya yang cukup, rajin, dan ulet........" 

Keberadaan sekolah Integral yang berbasis tauhid mencoba untuk mengembalikan ruh pendidikan yang telah hilang sebagaimana yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW. Kita bisa melihat bagaimana keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, yaitu dengan pendidikan berbasis tauhid (wahyu). Sebab itu, salah satu pendekatan yang telah dilakukan oleh SD Integral adalah bagaimana anak-anak yang diamanahkan oleh orang tua dapat dioptimalkan potensinya sehingga menjadi manusia yang utuh dengan memiliki karakter berdasarkan nilai-nilai Islam. 

Pendidikan yang seutuhnya adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru dan orang tua sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”.  

Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan karakter menyebutkan ada tiga komponen di dalam pendidikan karakter yaitu Pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan perbuatan bermoral (moral action). Sesorang perlu mengetahui tentang nilai-nilai moral dan etika, tetapi perlu juga membangun perasaan untuk menyenangi hal-hal yang berkaitan dengan nilai moral, kemudian memastikan anak untuk mencoba dan memulai melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan ketiga komponen di atas, pendidikan karakter tidak cukup dengan kata-kata , ia perlu contoh riil dari orang tua, pendalaman terhadap contoh-contoh tersebut dengan penjelasan-penjelasan dan refleksi tindakan anak, serta membangun sebuah lingkungan yang memastikan anak mudah untuk melakukannya dalm kehidupan mereka sehari-hari. Tugas sekolah hanya membantu orangtua untuk mengantarkan anak-anaknya mencapai tahap perkembangannya untuk mengetahui hakikat dirinya ada di dunia ini. Selebihnya dukungan dan kesungguhan orang tua dengan memberikan teladan yang baik. Anak-anak kita pun merasa bahwa ia tidak sendiri untuk menemukan jatidirinya, tetapi orang tua mereka pun ikut serta mengantarkan dirinya untuk menjadi hamba Allah SWT yang beruntung. ||  

Penulis : Achmad Bashori, S.Pd, Kepala SD Integral Luqman al Hakim Purwodadi-Grobogan 
Dikutip dari : www.sdithidayatullah.net

DIBALIK KEHIDUPAN INSAN BERNAMA: MUHAMMAD

Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.
Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan  keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan:
Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah
selesai sembahyang “.

Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu.Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar.Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira ?"
(Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan') Aisyah menjawab dengan agak serba salah, Belum ada apa-apa wahai Rasulullah “.
Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini ”. tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda,” Sebaik-baik lelaki adalahyang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya ". Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat.
Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seakan sendi-sendi pada tubuh baginda bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
” Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah anda menanggung penderitaan yang amat berat, sakitkah anda ya Rasulullah ?"
” Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar "
” Ya Rasulullah... mengapa setiap kali anda menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh anda? Kami yakin engkau sedang sakit..." desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar.Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda. ” Ya Rasulullah!
Adakah bila anda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat anda ?"  Lalu baginda menjawab dengan lembut,
” Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya ?”” Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku,agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia inilebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak ”.

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi
hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw
menolak sama sekali rasa ketuanan. Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan. Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, ” Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini ?" Jawab baginda dengan lunak,
” Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur ”.

Rasulullah S.A.W. Bersabda :
"Sampaikan pesanku walau sepotong ayat"

SEMOGA KITA DAPAT MENCONTOH
SIFAT DAN PERILAKU BELIAU DENGAN SEKUAT TENAGA,
KARENA SEBAIK-BAIK TELADAN ADALAH ROSULULLAH MUHAMMAD SAW.


Rabu, 27 September 2017

MENELADANI “KASIH SAYANG” RASULULLAH

Tujuan Rasul di Utus
Adapun diantara tujuan diutusnya Rasulullah SAW adalah : 1). Sebagai basyir/pembawa kabar gembira, 2). Sebagai mundzir/pemberi peringatan, 3). Sebagai rahmat bagi seluruh alam, 4).Sebagai uswatun hasanah/suri tauladan yang baik.
Allah telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh teladan bagi orang yang beriman. Misi yang beliau emban adalah menyebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia.bahkan kepada seluruh alam. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-anbiya ayat : 107 yang artinya : Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Iman At-Tabrani Rasulullah bersabda : Innamaa yarhamullaahu min ibaadihir ruhamaa-u.artinya : Sesungguhnya yang dikasihi Allah SWT di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang bersifat kasih sayang. (HR.  Thabrani).
Maka dalam moment ini kami mengajak pada kaum muslimin semua dalam rangka memperingati maulid Nabi besar untuk lebih mengingat kembali serta menghayati karakter-karakter positif ada pada pribadi rasullah SAW.  Dan seterusnya…………..
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Angka perceraian di Indonesia jauh lebih besar ketimbang di Inggris. Di Indonesia 10%,  sementara di Inggris 1,2 %. Rasanya agak aneh, karena sebagian besar penduduk kita beragama Islam, dan Islam adalah agama yg mementingkan kasih sayang sebagaimana Allah SWT yang memiliki sifat Ar Rahman dan Ar Rahim, maha  pengasih dan maha penyayang.
Memang perceraian adalah sesuatu yang yang di bolehkan dalam Islam meski dibenci oleh Allah. Menurut data dari Kementerian Agama tahun 2010 bahwa penyebab terbesar penceriaian di Negara kita adalah factor ketidakharmonisan, dan kekerasan dalam rumah tangga(KDRT). Itu berarti, rasa kasih sayang telah hilang di hati mereka, minimal dihati salah satu dari itu.
Itu baru satu fenomena saja. Masih banyak fenomena lain di negeri ini yang mengindikasikan betapa sifat kasih sayang ini sudah banyak yang hilang. Misalnya, saling membunuh,menindas,menyikut, perpeloncoan di lembaga-lembaga pendidikan, saling tuding yang ini semua sudah menajadi sajian utama dalam kehidupan kita.
Jelas ini ada yang salah dengaan kita. Kasih sayang sebagai pilar pembangun peradaban Islam telah hilang pada kelompok masyarakat yang paling kecil, yakni keluarga. Ini berakibat pula hilangnya kasih sayang pada kelompok masyarakat yang lebih besar.

Kasih Sayang Adalah Kunci Semua Amalan

Kasih sayang manusia ini sangat terbatas,karena betapun tulusnya kasih sayang manusia pasti ada pamrihnya. Tapi kasih sayang Allah SWT tanpa terbatas pada dimensi ruang dan waktu. Buktinya kasih sayang itu tetap diberikan kepada siapapun sekalipun ia mengingkariNya. Kita diciptakan karena kasih sayangNya, bumi diciptakan sebagai tempat kita berpijak untuk memenuhi kebutuhan kita, ini juga sebagai bentuk kasih sayangNya.
 Kita juga tidak dibiarkan hidup sendiri. Allah menanamkan rasa cinta dalam hati kita lawan jenis. Kemudian kita menikah dan hidup berpasang-pasangan. Kita beranak pinak dalam sebuah ikatan keluarga. Bukankah ini semua adalah bentuk kasih sayang Allah ?
-          Jelaskan hadits di tarbiyati

Desain Kasih Sayang dari Allah  
Semakin kita sering membaca kasih sayang Allah SWT, maka semakin tumbuh rasa syukur dan cinta kepadaNya. Pelan-pelan tumbuh keinginan untuk meneladani dan memiliki rasa kasih sayang sebagaimana yang dimiliki Allah SWT. Rasululllah SAW bersabda : “Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa memperhitungkannya (mengenal dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu), dia masuk surga.”(HR Bukhori).
Setiap hari, kkita tidak kurang dari 17 kali membaca surah al-fatihah pada setiap rakaat shalat. Disitu kata ar-rahman dan ar-rahim kit abaca. Belum lagi ketika kita mau melaksankan setiap aktifitas kita awali dengan basmalah. Itu artinya bahwa seluruh perbuatan kita adalah atas nama Allah SWT. Sehingga  tidak bisa tidak, sebagai khalifah, seluruh amalan kita harus mencerminkan kasih saying Allah.

Contoh teladan kasih sayang dari Rasulullah SAW :
1.       Ketika rasul datang ke thaif utk menyampaikan da’wahnya, beliau tdk meandapatkan sambutan yang menyenangkan. Sebaliknya, beliau dicaci, dimaki, diusir dan dilempari batu hingga terluka. Melihat kondisi seperti itu malaikat menawarkan untuk member balasan kepada penduduk tersebut dengan cara melongsorkan bukit dan menimbun mereka semuanya hidup-hidup. Namun sikap rasul tetap sabar dan tidak menerima tawaran tsb, bahkan beliau mendo’akan mereka dengan do’a “ Allahummahdi qoumy fa innahum laa ya’lamuun” Ya Allah berilah pwetunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Para sahabat bertanya : wahai Rasul engkau mendo’akan kepada orang-orang musyrik? Beliau menjawab : “sesungguhnya aku di utus bukan untuk mendatangkan laknat, tapi untuk menjadi rahmat”.
2.       Suatu hari rasul sedang menggendong seorang balita, tiba-tiba anak tersebut kencing di pakaian rasul dst ….
3.       Dan lain-lain…

Penyebab Hilangnya Kasih Sayang
1.       Virus Takatsur
2.       Sifat serakah yang telah menjangkit
3.       Sifat Dengki
4.       Takabbur
5.       Dendam

Resep Memelihara Sifat Kasih Sayang
1.       Ziarah Kubur
2.       Mempelajari Syariat
3.       Tanggung Jawab

Kesimpulan :
Dalam memperingati maulid Nabi kali ini, kami mengajak kepada kaum muslimin semua hendaknya kita selalu berupaya untuk :
Lebih mengenal lagi sosok nan agung dan bersahaja Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW, untuk ditauladani dalam seluruh aspek keperibadiannya, karena langkah ini adalah bentuk riil kita mencintai beliau.