SELAMAT DATANG DI WEB BALAI PENDIDIKAN AL IKHLAS KALIKOTES

Kamis, 21 Desember 2017

Shalat Malam, Kunci Mendidik Anak

Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa

Hidayatullah.com“Wah, kalau soal pendidikan anak jangan saya orangnya. Saya ini tak pernah mendidik anak-anak.” Begitu kata Ustadz Anwari Hambali (53) ketika media ini minta waktu untuk wawancara. Ustad Anwari, begitu biasa dipanggil, adalah seorang dai senior di Hidayatullah.
Pernyataan Anwari itu bisa dibaca sebagai ungkapan rendah hati. Nyatanya, ia dikaruniai 9 anak. Sebagai orangtua yang mempunyai anak sebanyak itu, mana mungkin tak pernah mendidik putra-putrinya. Hanya,  dai kelahiran Probalingga, Jawa Tengah ini  memang punya cara tersendiri yang mungkin berbeda dengan orangtua lainnya.
Dan cara itu, sejauh ini lumayan berhasil. “Cukup menyejukan hati,” begitu ujar anggota Dewan Syura Hidayatullah ini.
Anwari menikah pada l985 dengan Umi Latifah, teman sepengajian di Probalinggo. Dari 9 anah buah pernikahan mereka, kini tinggal 5. Empat anaknya sudah dipanggil pulang ke rahmatullah. Lima anak tersisa itu adalah Faiz Ghufron Muhammad (24), Nafis Mahfudz Muthohar (20), Iffah Nurfathi (17), Luthfia Nur Rokhani (16), dan Tsabit Amin Fuadi (14).


Dari lima anak Anwari yang tersisa, 4 di antaranya kini sedang menghafal al-Qur`an di beberapa pesantren di Jawa. Bahkan Nafis sudah khatam 30 Juz.      Sedangkan Faiz memilih  menjadi guru di sebuah pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Terhadap anak-anak

Bagaimana Anda mendidik anak-anak?
 Begini, saya punya hati, istri punya hati, anak-anak juga punya hati. Hati-hati itu dimiliki oleh Allah. Saya tidak bisa menyetir hati-hati mereka, saya hanya bisa berdoa. Dan  doa yang  saya baca tiap hari adalah doa kepasrahan seperti doanya Nabi Ibrahim. ”Ya Allah, jadikan kami suami dan istri yang selalu pasrah kepadaMu, jadikanlah anak keturunan kami orang-orang yang pasrah kepada Mu. Ya Allah, bimbinglah kami semua.” Itulah cara saya berkeluarga: mengutamakan kekuatan Allah di atas kekuatan saya sendiri. Alhamdulillah, hasilnya cukup menyejukkan.
Prinsip saya, kalau kita ngurus orang lain, maka Allah yang mengurus keluarga kita.

Anak-anak Anda punya kecenderungan kuat belajar agama. Apakah itu permintaan Anda? 
Kami tidak pernah memaksakan anak-anak belajar agama. Mereka yang punya kemauan sendiri. Kuncinya pada anak pertama. Dia punya niat cukup kuat untuk belajar agama di pesantren. Dia pernah belajar di sebuah pesantren di Bekasi dan Cirebon. Dia pula yang kemudian “memprovokasi” adik-adiknya untuk  mengikuti jejaknya. “Kalau kamu dekat terus sama orangtua, kamu tidak akan jadi-jadi,” begitunya doktrinya kepada adik-adiknya.

Mereka semua jauh dari Anda. Tidak khawatir?
Tidak. Saya yakin, kalau kita mengurus  orang lain, Allah pasti mengurus keluarga kita. Kami sebagai sebagai orangtua selalu berdoa buat mereka. Dan  jangan lupa, pengaruh doa itu sangat kuat bagi anak-anak.  Bisa dibedakan, antara anak yang dibimbing orangtua tanpa doa dan anak yang dibimbing orangtua dengan doa. Dengan doa ada ketenangan. Alhamdulillah, anak saya baik-baik saja walaupun jauh dari orangtua. Bahkan anak saya ada yang menjadi santri teladan.

Maksud Anda doa lebih kuat ketimbang ucapan dan tindakan?
Dalam al-Qur`an ada Surat Muzammil. Dalam surat ini kita diperintahkan shalat malam. Setelah shalat malam kita disuruh mengkaji al-Qur`an. Siapa saja melakukan dua hal itu, Allah menjamin memberikan perkataaan yang berbobot atau bermutu. Perkataan yang berbobot ini penting dalam proses pendidikan anak.
Selain itu, orang yang rajin shalat malam dan membaca al-Qur`an bakal lebih dekat pada Allah. Orang yang dekat dengan Allah, itu lebih menonjol hati nurani ketimbang perasaan dan pikirannya. Termasuk dalam mendidik anak, dia bakal lebih banyak menggunakan hati nurani. Karena menggunakan hati nurani, maka  bakal nyambung dengan hati nurani anak-anak dan istri. Nah, di sinilah fungsi doa itu.

Ada contoh dalam sejarah?
Kita ingat sejarah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Ketika ingin menaklukkan Umar bin Khathab, sebelum melangkah dan bicara, beliau berdoa dulu sehingga saat bertemu dengan Umar yang bicara bukan dorongan perasaan dan pikirannya, melainkan hati nuraninya. Orang yang bicara dengan nurani, tentu beda dengan orang yang bicara atas dasar emosi dan logika.

Semua anak Anda kirim ke pesantren. Inspirasi dari mana? 
Saya terisnpirasi keluarga Imran. Keluarga Imran itu kurangnya apa? Mereka merupakan gambaran keluarga yang sholeh. Tapi mengapa untuk mengasuh anaknya, Maryam, dititipkan kepada orang lain? (kisah keluaga Imran ini ada pada al-Qur’an surat Ali Imran)
Ternyata, pengaruhnya sangat nyata, antara anak yang selalu dekat dengan orangtua dibanding dengan anak yang sejak kecil sudah masuk pesantren atau jauh dari orangtua. Pengalaman saya, anak yang selalu kumpul dengan orangtua, biasanya sangat patuh pada guru, tapi jika di rumah sulit diatur. Jadi, kesimpulan saya, perbedaannya dahsyat sekali. Anak yang dekat dengan orangtua (secara fisik) cenderung melanggar aturan, justru yang jauh lebih patuh pada orangtua. 

Anak Anda berjauhan, apa problem mendidik mereka? 
Hampir tidak pernah ada. Alhamdulillah, semua anak saya mulus-mulus saja. Apalagi anak yang terakhir, dia takut sekali kalau ketemu wanita.

Semua anak Anda tidak ada yang sekolah di sekolah umum?
Tidak ada. Mereka tidak ada yang tertarik untuk mendapat ijazah dari sekolah.  Yang penting, kata mereka,  mencari ilmu. Soal ijazah gampang, bisa ikut ujian persamaan. Padahal saya sendiri juga tak punya ijazah. Saya menilai, ‘nilai berhala’ ijazah jauh lebih tinggi ketimbang manfaatnya. Karena itu saya sengaja tak mengambil ijazah di IAIN Sunan Kalijaga, padahal sudah semester akhir.
Anak saya ada yang pindah-pindah sekolah dan itu tidak masalah buat saya.

Lantas, apa yang Anda harapkan dari anak-anak?
Masing-masing anak punya bakat dan kecenderungan sendiri. Tugas kita adalah mengantarkannya. Yang terpenting masih dalam koordinasi satu jamaah. Tanpa jamaah, maka boleh dibilang segala potensi akan sia-sia.

Sebagai dai, Anda sering meninggalkan rumah, bahkan sampai berminggu-minggu. Bagamaina dengan keluarga? 
Minggalkan rumah atau tidak, bagi saja sama saja. Karena toh di rumah juga tidak ada orang. Istri juga kerap memberi pengajian kepada para jamaah. Justru kalau tugas ke daerah saya malah bisa bertemu dengan anak. Misalnya ke Surabaya, saya mampir ke Darul Hijrah (pesantren tahfidz milik Hidayatullah Surabaya) menengok anak bungsu saya.
Jadi, rumah itu bagi saya seperti tempat transit saja. Dalam satu bulan, saya bisa sama sekali tidak di rumah. (Sebagai anggota Dewan Syura Hidayatullah, Anwari sering pergi ke berbagai derah melakukan tugas pembinaan di Cabang-cabang)….>>>


nya yang menghafal al-Qur`an, Anwari mengaku bukan hasil arahannya. “Itu kemauan anak-anak sendiri,” tambah pria yang rajin olahraga bulutangkis dan tenis meja ini. “Saya hanya mendoakan saja.”
Bagaimana resep Anwari mendidik putra-putrinya, mengapa ia menaruh anak-anak di pesantren dan bagaimana pula sejarah berhidayatullahnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, hidayatullah.com menemui  Anwari di rumahnya yang sederhana di pinggir danau Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Rumah itu berdinding dan berlantai kayu, sama dengan rumah lain di Kampus Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kami diterima di ruang tamu yang benar-benar minimalis. Tak ada sehelai pun barang berharga di situ, selain beberapa buku.
Ditemani sepiring pisang goreng, kami ngobrol dengan pria yang pernah kuliah tafsir di IAIN Sunan Kalijaja, Yogyakarta ini. Ikkuti hasil wawancara dengan Anwari pada artikel berikutnya. 


Bersikap Lembut Ketika Mendidik Anak

Para orang tua masih banyak yang bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga anak-anak merasa bagaikan di neraka.

 
RASULULLAH Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengajarkan bagaimana cara mendidik seorang anak yang masih kecil melalui sabda beliau,
“Wahai anak, apabila engkau makan, maka ucapkanlah ‘Bismillah‘ dan makanlah dengan menggunakann tangan kanan, serta ambillah hidangan yang terdekat darimu.“ (HR. Thabrani dengan sanad sahih).
Abu Hafsh, anak angkat Rasulullah, pernah bercerita, “Tanganku secara terburu-buru memegang shafhah (tempat makan), maka Rasululllah menegur dengan berkata, ‘Wahai anakku, ucapkanlah Bismillah sebelum engkau makan’.“ Hadist ini menunjukkan bahwa doa ketika hendak makan adalah Bismillah saja, sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah,
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah mengucapkan Bismillah. Jika ia lupa, kemudian teringat di tengah-tengah ia sedang makan, maka ucapkanlah dengan lafazh ‘Bismillahi Awwaluhu wa Akhiruhu (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya).” (HR. Tirmidzi dengan sanad sahih).
Ada sebuah riwayat yang menyatakan, “Ketika Rasulullah hendak menyuapkan makanan kepada Hasan bin Ali (cucu beliau), kemudian beliau melihat seorang anak kecil yang mulutnya dibuka lebar dan lidahnya dijulurkan keluar, maka beliau bergegas menuju kepada anak tersebut dan menyuapkan makanan kepadanya.“ (Hadits hasan).
Pernah suatu ketika Rasulullah sedang melakukan shalat, ketika saat sujud, Hasan dan Husein naik ke punggung beliau dan para sahabat hendak mencegahnya. Akan tetapi, beliau mengisyaratkan untuk membiarkan mereka berdua. Peristiwa itu terjadi di dalam masjid. Setelah pelaksanaan shalat berjamaah selesai dilakukan, beliau meletakkan kedua cucunya itu di atas batu.
Pada riwayat yang lain diceritakan,
“Ada seorang badui mendatangi Rasulullah dan bertanya, ‘Apakah engkau mencium anak-anak kecil, sungguh kami tidak mencium?’ Maka beliau menjawab, ‘Apakah harus aku biarkan engkau agar Allah menghilangkan rasa kasih dan sayang dari hatimu?” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia menceritakan,
“Nabi saw mencium Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al ‘Aqra bin Habits At-Tamimi. Lalu Al ’Aqra berkata kepada beliau, ‘Aku memiliki sepuluh orang anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Maka Rasulullah berkata, ‘Barangsiapa yang tidak penyayang, maka ia tidak akan disayang.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para orang tua masih banyak yang menganggap remeh sikap jenaka (bercanda) dengan anak-anaknya atau bersikap lembut kepada mereka. Bahkan cenderung bersikap keras dan membuat anak-anak merasa takut kepadanya, sehingga untuk bergerak atau bermain pun dilarang dan juga mengekang kebebasan anak. Sampai-sampai kehidupan anak-anak terasa bagaikan di neraka. Anak-anak tumbuh dengan berhati keras, membenci orang tua dan mungkin ada niatnya untuk berusaha lari dari rumah.
Rasulullah telah memberi contoh dalam kehidupannya, di mana beliau juga bercanda dan bersikap lembut kepada anak-anak. Oleh sebab itu sudah selayaknya kita mempelajari dan mencontoh biografi beliau serta berusaha untuk berbuat adil kepada anak-anak dengan membentuk kehidupan yang penuh kegembiraan lagi bahagia bagi anak-anak. Namun demikian, sikap seperti itu juga memiliki batasan yang tentunya tidak melalaikan pendidikan mereka.
Contoh yang diberikan oleh Rasulullah ini banyak diabaikan oleh mereka yang selalu bertindak kasar terhadap anak-anak yang tengah bermain di masjid, yaitu, pada saat mereka bermain-main di dalam atau di sekitarnya. Bahkan, terkadang mereka memarahi anak-anak tersebut dan mengusirnya dari Baitullah. Ingatlah, bahwa tindakan seperti itu merupakan suatu kerugian yang merusak.
Setelah kejadian itu, lalu para sahabat menggantungkan dahan pohon kurma yang sudah berbuah dengan tujuan agar anak-anak senang berada di sekitar masjid dan memakannya.*/Sudirman STAIL (sumber buku: Kado Perkawinan, penulis: Mahmud Mahdi Al-Istanbuli)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Kamis, 14 Desember 2017

Khusyuk dalam Shalat

                                                                                    Oleh: Faisal Baaras
Apabila sudah mampu merasakan nikmatnya shalat, itu berarti sudah sampai pada makamnya shalat khusyuk. Sesungguhnya, shalat khusyuk adalah manifestasi dari meningkatnya persepsi Ilahiyah seseorang yang sudah merasakan nikmatnya shalat itu.

Shalat pada hakikatnya hanya terdiri dari dua hal, yaitu pengakuan dan permohonan—pengakuan kita tentang keesaan Allah dan permohonan kita yang ditujukan hanya kepada-Nya untuk kemaslahatan kita di dunia dan akhirat nanti.

Shalat adalah berdialog dan mengadu kepada Allah—yang secara khusus telah ditetapkan-Nya, ketika Nabi Muhammad menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Oleh karena itu, ruh shalat kita hendaknya seperti isra dan mikrajnya Nabi Muhammad waktu itu. Yakinlah bahwa kita memang sewaktuwaktu pasti akan menghadap kepada-Nya dan kembali kepada-Nya.

Maka, untuk meraih shalat yang khusyuk, diperlukan persiapan jasmani dan ruhani terlebih dahulu, sebagai berikut:

Pertama, setiap kali hendak shalat, persiapkan batin kita lebih dahulu bahwa kita hanyalah sebutir debu yang akan bermunajat dan mengadukan keadaan diri kita hari itu kepada Allah Yang Maha Esa. La ilaaha illallah—tidak ada "tuhan-tuhan" lain apa pun yang perlu ditakuti—apa pun itu wujudnya, kecuali takut, taat, takwa hanya kepada Allah. Ingatlah, senantiasa ada Allah di dekat kita, meliputi kita. Merasa takut pada hal-hal lain—selain takut kepada Allah—bisa dikatagorikan syirik.

Kedua, lakukan gerakan-gerakan shalat dari posisi yang satu ke posisi berikutnya dengan perlahan, halus, dan lembut. Jangan cepat-cepat, tergesa-gesa. Dan sempurnakan setiap posisi dalam shalat kita lebih dahulu sebelum mulai membaca bacaan-bacaan shalat.

Ketiga, bacalah bacaan shalat itu ayat per ayat dengan tartil, perlahan—simak tiap kata yang keluar dari bibir kita — dan jeda sejenak (tumakninah) di akhir tiap ayat untuk menghayati maknanya.

Keempat, libatkan seluruh perasaan kita sampai terasa merinding di seluruh pori-pori kulit kita--bahwa kita bukan siapa-siapa—hanya sebutir debu yang sedang mengadukan seluruh persoalan hidupnya, kelemahan-kelemahannya dan ketakutanketakutannya, dalam dialog yang panjang dengan Yang Maha Pencipta alam semesta ini: Allah yang Maha Esa.

Kelima, di akhir shalat sebelum beranjak dari sajadah, renungkanlah bahwa kita diturunkan di bumi oleh Allah adalah untuk menebarkan rahmatan lil alamin sebagai misi kita. Perbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa kita—untuk menghapus kesalahan dan dosadosa harian kita di hari itu. Dan yakinlah, belum tuntas doa-doa yang kita ucapkan, Allah sudah mengabulkan doa-doa itu dengan cara-Nya—untuk kebaikan kita di dunia dan pertemuan kita di akhirat nanti.

"Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya (shalat) itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS al- Baqarah [2]: 45-46).n


sumber :                                           REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Faisal Baaras